Bagaimana Kami Mengejar Pintu

Siapakah kamu di masa lalu? Apakah kamu seorang perawan Vesta, menjaga api abadi milik sang dewi; apakah kamu seorang tukang kayu dari Mesopotamia yang mengidam-idamkan sebatang kayu cedar; apakah kamu seorang buccaneer yang memburu galiung-galiung di perairan Tortuga; apakah kamu seorang gadis kecil yang terjebak di antara desingan peluru para unionis di Belfast. Jika satu pintu tertutup, maka yang lain akan terbuka. Dengan ini, kami mempersembahkan subjek keempat dari terbitan kami. Subjek 4: Pintu.

Narasi pertama adalah Tarus Lan dengan Life is A Hallway Full of Door. Biarkan renungan ini membawamu ke tempat-tempat yang jauh, tempat-tempat yang kamu pikir tiada bisa mewujud dalam kepalamu. Mungkin tempat itu masa lalu, mungkin tempat itu salah satu penyesalan dalam hidupmu. Pada cerita selanjutnya, biarkan dhavalvada membawakan dongeng yang mencekam bersama Nona Fifi. Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan? Sebuah kewajibankah? Sesuatu yang menjadi takdir kita? Ke mana satu pintu akan membawamu? Tebaklah, tebaklah. Cerita ketiga adalah hantu yang akan menggentayangi kalian begitu terbitan kali ini usai, Dewi Ibu oleh Laika. Siapa yang paling kalian rindukan di dunia ini? Bayangkan rahim, bayangkan suatu tempat di mana kalian bisa meringkuk, bayangkan seorang dewi. Biarkan kisah ini membuai kalian.

Demikianlah bagaimana kami menemukan Ritual. Silakan menuju ke tautan berikut untuk membaca terbitan kedua kami, Subjek 04: Pintu.

Bagaimana Kami Merajut Takdir

Pada mulanya kami bermimpi, tentang kisah-kisah yang jauh dan dunia-dunia yang dekat. Kami ingin memetik semuanya satu per satu, lalu merajutnya menjadi sepotong selimut yang hangat untuk hari yang dingin. Namun, pertama-tama, kami harus mencari. Kami memutuskan dengan sangat hati-hati, Takdirlah yang mula-mula harus kami cari. Kami mencari dan mencari, dan kami pun bersua dengan para kontributor yang (semoga saja) berbahagia. Mereka mengantar Takdir kepada kami, untuk kita. Rajutan kami tak sempurna, tapi naskah-naskah yang menemani kami mengantar proyek kami sedikit lebih dekat pada kebahagiaan dan kesempurnaan.

Pada rajutan pertama, Fatru Tamzil yang akan kita temui. Naskahnya berjudul Akhir Bahagia untuk Cucu Kakek, di mana kita akan bertemu sebuah dongeng yang lembut. Di sini kita harus memberi tahu diri kita, bahwa kita harus terlena. Terlenalah, sebab selanjutnya kita akan bertemu Kenny Andriana dengan naskahnya, Can You Use Your Flying Car and Come Pick Me Up? Ada dialog yang menunggu kita. Tanda tanya tentang nasib dan takdir dirajut dalam sebuah percakapan. Lalu ada Sofia Tantono dengan naskahnya, Sebuah Andaian. Dan, seperti kebanyakan andaian, sekali-kali kita harus berhenti pada titik dan koma pada kisah-kisah yang Sofia tuturkan, untuk berandai-andai dan meraba kembali ke mana perginya kebahagiaan kita. Naskah keempat adalah Tarus Lan dengan non-fiksi spekulatifnya, If Our Fate Is Set In Stone, Would It Matter What We Choose? Sabar, jangan jawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu sebelum kamu menyelesaikan paragraf terakhir. Biarkan dirimu percaya akan rapuhnya takdir kita di jagat raya.

Segalanya terlalu mengerikan … mungkin. Oleh karenanya, temuilah naskah selanjutnya oleh Ranna Madellin, yang berjudul aku, merah, kau. Sebuah kisah cinta, bisa dibilang. Sebuah kisah tentang jodoh, bisa dibilang. Bacalah dengan merebah, dengan tersenyum, sebelum beralih menuju naskah selanjutnya: Plackeinstein, dengan karyanya Esirum. Sebuah pertanyaan ditegakkan tinggi-tinggi, mengenai alienasi dan dunia tempat kita mengada. Masihkah kita mengenal satu sama lain di sini? Barangkali masih, maka mari menuju naskah terakhir dalam rajutan takdir kami, Kemudian, Hilang oleh Nunggal Sera. Adalah kisah mencekam yang singkat, padat, dan unik. Hidangan penutup kita, untuk kemudian meninggalkan Proyek Utopia edisi ini dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.

Demikianlah bagaimana kami merajut Takdir. Silakan menuju ke tautan berikut untuk membaca terbitan pertama kami, Subjek 01: Takdir.