Bagaimana Kami Menemukan Ritual

Bagaimana kami bisa berbicara dengan kalian? Kami tidak punya banyak kata-kata untuk disampaikan. Itu sebabnya, kami membutuhkan kalian lebih dari kalian membutuhkan kami. Bagaimana kami bisa berbicara dengan kalian? Kami telah melalui Oktober yang penuh misteri dan Desember yang penuh perayaan, dan beberapa kisah sampai dengan selamat ke dalam rengkuhan kami. Kisah-kisah ini mewujudkan segala sesuatu yang kami bayangkan dalam angan kami ketika kami memutuskan untuk memilih Ritual sebagai tema edisi kali ini.

Kisah pertama adalah Felicia Ho dengan The Post-Mortem Brunch Experience. Ke mana kita pergi setelah kita tak lagi mengembuskan napas ke dunia ini? Ke mana akar kita akan menjalar? Akankah kenangan menghantui kita? Sebuah kisah mengenai kenangan dan kematian. Lalu, Sebelum Mata Terpejam, Bising yang Meredam oleh Adrindia Ryandisza. Kami berkata ritual dan kisah datang dengan sebuah interpretasi segar mengenai ritual. Di dunia yang bising ini, kita mengejar lelap. Cerita ketiga tiba dengan Alfa dan prosa pendeknya, As Cats Do. Siapa orang yang paling banyak menerima ritual di muka bumi ini jika bukan para ibu? Lantas, untuk menutup segalanya, kami memilih The Sea Monster karya Amanda Savira. Sebuah kisah mencekam yang terinspirasi dari kisah nyata, Tunggal Jati Nusantara Group, yang mencari berkah dari Nyi Roro Kidul. Kami harap kisah ini akan menghantui kalian sebagaimana kisah ini menghantui kami.

Demikianlah bagaimana kami menemukan Ritual. Silakan menuju ke tautan berikut untuk membaca terbitan kedua kami, Subjek 02: Ritual.